Balikpapan Akan Ekspor Porang ke Jepang

0
163
Kepala Balai Karantina Kelas I Balikpapan, Abdul Rahman. (fajria/bb)

Umbi porang makin populer saja. Tak terkecuali di kalangan petani Balikpapan. Ketenaran porang diungkap Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan, Abdul Rahman, saat menggelar sesi diskusi dengan kalangan pers, belum lama ini.

“Sudah ada petani di Balikpapan yang menanam porang. Insyallah tahun ini mereka akan ekspor ke Jepang bersama dengan petani di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara,” kata Abdul Rahman. Sejak menjabat sebagai Kepala Balai Karantina, sepak terjang Abdul Rahman mendorong ekspor komoditas pertanian memang cukup besar.

Lihat saja jejak digitalnya. Abdul Rahman tak segan menggelar pertemuan dengan para pelaku usaha. Menjembatani pelaku usaha dengan regulator, sampai menghadiri pertemuan dengan pengambil kebijakan di sektor pertanian dan perkebunan.

Bahkan, ia juga menanam sejumlah komoditas berpotensi ekspor di kantornya. “Supaya masyarakat yang datang bisa langsung  tahu. Ini loh wujud hasil pertanian yang bisa diekspor,” katanya, suatu kali. Abdul Rahman juga aktif menginformasikan komoditas apa yang sudah dan akan diekspor kepada wartawan. Bahkan, meski kuantitas komoditas yang diekspor masih kecil.

Kembali soal porang, Balai Karantina mendeteksi adanya lahan 100 hektare tanaman porang yang siap dipanen. Diperkirakan, pertengahan tahun ini, komoditas utama untuk pembuatan tepung itu, sudah bisa dikirim ke luar negeri.

Ketenaran porang memang sangat tinggi akhir-akhir ini. Hal itu dipicu kisah sukses para petani yang dipublikasikan sedemikian tinggi. menurut catatan Abdul Rahman, harga per kilogramnya porang yang sudah kering mencapai Rp 50 ribu.

“Kalau satu hektare bisa memproduksi 40 ton porang. Berapa keuntungan yang diperoleh petani? Kalikan saja,” kata Abdul Rahman setengah bertanya.  Memang butuh biaya untuk perawatan, pemupukan dan lain sebagainya. Namun biaya yang diperlukan, berdasarkan hitung-hitungan, tak lebih dari Rp 100 juta per hektare.

Upaya Balai Karantina mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian, tak lain karena adanya program menuju tiga kali lipat ekspor (Gratieks) oleh Kementerian Pertanian. Tidak berhenti disitu saja, pihaknya juga mendorong penghiliran porang sebagai nilai tambah produk dan penyerapan tenaga kerja.

Karena itu, tahun ini akan dibangun pabrik untuk memproduksi porang di Kelurahan Kariangau. Tak jauh dari Pelabuhan Terminal Peti Kemas Karingau. Pabrik porang itu, kata Abdul Rahman, dibangun seorang pengusaha Balikpapan untuk menyerap hasil tanam petani.

Dengan ekspor porang yang direncanakan tahun ini, perolehan ekspor Karantina Pertanian Balikpapan diperkirakan menembus Rp 14 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here