Mengingat Kembali Petuah Ronggo Warsito di Hari Kematiannya

0
36
Ronggo Warsito, Pujangga yang dianggap mampu membaca tanda-tanda zaman karena karyanya seirisan dengan situasi kekinian

Balikpapan Bagus – Salah satu pujangga termasyur yang dimiliki nusantara,    Raden Ngabehi Ronggo Warsito, wafat 24 Desember. Tepat hari ini 147 tahun silam. Salah satu karya terbesarnya ialah Serat Kalatidha.

Ronggo Warsito merupakan salah satu pujangga dari Kasunanan Surakarta. Ia pujangga besar terakhir di pulau Jawa. Ronggo Warsito lahir pada 14 Maret 1802 dengan nama Bagoes Boerhan.

Ia merupakan cucu dari Yasadipura II, pujangga utama kerajaan Kasunanan Surakarta. Ronggo Warsito diangkat menjadi pujangga Kasunanan setelah kematian ayahnya oleh Belanda.

Tulisannya banyak membangkitkan semangat perlawanan pribumi kepada Belanda. Ia meninggal pada 24 Desember 1873 dengan penyebab kematian yang masih misterius hingga kini.

Selain Serat Kalatidha, Ronggo Warsito banyak menghasilkan tulisan diantaranya:

Bambang Dwihastha: Cariyos Ringgit, Purwa Bausastra Kawi atau Kamus Kawi–Jawa, yang ditulis dengan C.F. Winter sr., Sajarah Pandhawa lan Korawa: Miturut Mahabharata, yang ditulis dengan C.F. Winter sr.

Sapta Dharma, Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalatidha, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayeng Tilam, Serat Paramasastra, Serat Paramayoga, Serat Pawarsakan, Serat Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya,Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma’lumat Jati, Serat Sabda Jati.

Serat Kalatidha

Kalatidha terdiri dari kata Kala dan Tidha yang berarti Zaman Edan. Serat ini terdiri dari 3 bagian (bait 1 – 6, bait 7 dan bait 8 – 12). Bait ke 7 merupakan bait yang paling terkenal. Bagian pertama mengenai manusia tanpa prinsip, bagian kedua mengenai tekad dan intropeksi diri dan bagian terakhir mengenai penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Berikut adalah isi dari ke 12 bait tersebut:

Bait 1

Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunya-ruri

rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi

Ponang parameng kawi, kawileting tyas malatkung

kongas kasudranira, tidhem tandhaning dumadi

Hardayengrat dening karoban rubeda

Artinya :

Sekarang derajat negara, Terlihat telah suram

Pelaksanaan undang-undang sudah rusak, Karena tanpa teladan

Kini sang pujangga, Hatinya diliputi rasa sedih prihatin

Tampak jelas kehina-dinanya, Amat suram tanda-tanda kehidupan

Akibat kesukaran duniawi, Bertubi-tubi kebanjiran, bencana

Bait 2

Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih

Pra nayaka tyas raharja, Panekara becik-becik

Parandene tan dadi, Paliyasing kalabendu

Malah sangkin andadra, Rubeda kang ngreribedi

Beda-beda hardane wong sanagara

Artinya :

Raja yg tengah berkuasa adalah raja utama, Perdana menteripun seorang yg terpilih

Para menteri juga bercita-cita menyejahterakan rakyat, Pegawai aparatnyapun baik-baik

Meski demikian tidak menjadi penolak, Atas zaman terkutuk ini

Malahan keadaan semakin menjadi-jadi, Berbagai rintangan yang mengganggu

Berbeda-beda perbuatan angkara orang seluruh negara

Bait 3

Katatangi tangisira, Sira sang parameng kawi

Kawileting tyas duhtita, Kataman ing reh wirangi

Dening upaya sandi, Sumaruna anarawang

Panglipur manuhara, Met pamrih melik pakolih

Temah su-ha ing karsa tanpa weweka, 

Artinya:

Daripada menangis sedih, Bangkitlah wahai sang pujangga

Meski diliputi penuh duka cita, Mendapatkan rasa malu

Atas berbagai fitnah orang, Mereka yang mendekatimu

Bergaul menghibur hatimu, Padahal bermaksud memperoleh keuntungan

Sehingga merusak cita-cita luhur, Krn tanpa kehati-hatianmu

Bait 4

Dhasar karoban pawarta, Babaratan ujar lamis

Pinudya dadya pangarsa, Wekasan malah kawuri

Yen pinikir sayekti, Pedah apa aneng ngayun

Adhedher kaluputan, Siniraman banyu lali

Lamun tuwuh dadi kekembang beka

Artinya:

Dasarnya terpetik berbagai berita, Kabar angin yg berujar munafik

Sang pujangga hendak diangkat menjadi pemuka, Akhirnya malahan berada di belakang

Apabila dipikir-pikir dgn benar, Berfaedah apa berada dimuka

Menanam benih-benih kesalahan, Disirami oleh air kelupaan

Apabila tumbuh berkembang menjadi kesukaran

Bait 5

Ujaring Panitisastra, Awawarah asung peling

Ing jaman keneng musibat, Wong ambek jatmika kontit

Mangkono yen niteni, Pedah apa amituhu

Pawarta lalawora, Mundak angroronta ati

Angur baya ngiketa cariteng kuna, 

Artinya:

Menurut buku Panitisastra, Memberi ajaran dan peringatan

Di dalam zaman yang penuh bencana, Bahwa orang berjiwa bijak justru kalah berada di belakang

Demikian apabila mau memperhatikan tanda-tanda zaman, Apakah gunanya kita percaya

Pada berita-berita kosong, Justru terasa semakin menyakitkan hati

Lebih baik menulis cerita-cerita kuno,

Bait 6

Keni kinarya darsana, Palimbang ala lan becik

Sayekti akeh kewala, Lalakon kang dadi tamsil

Masalahing ngaurip, Wahanira tinemu

Temahan anarima, Mupus papasthening takdir

Puluh-puluh anglakoni kaelokan

Artinya:

Hal itu dapat digunakan sebagai teladan, Untuk membandingkan hal buruk dan baik

Tentunya banyak juga, Kelakuan-kelakuan yang menjadi contoh

Tentang masalah-masalah hidup, Hingga akhirnya ditemukannya keadaan tawakal atau menerima

Menyadari akan ketentuan takdir Tuhan, Bagaimana pula hal ini mengalami keanehan

Bait 7

Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora tahan, Yen tan milu nglakoni

Boya kaduman melik, Kaliren wakasanipun

Dlilalah kersa Allah, Begja-begjaning kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada

Artinya :

Menghadapi zaman edan, Keadaan menjadi serba sulit

Turut serta edan tidak tahan, Apabila tidak turut serta melakukan

Tidak mendapat bagian, Akhirnya menderita kelaparan

Sudah menjadi kehendak Allah, Betapapun bahagianya orang yang lupa

Lebih berbahagia mereka yg sadar dan waspada

Bait 8

Samono iku babasan, Padu paduning kapengin

Enggih makoten Man Doplang, Bener ingkang ngarani

Nanging sajroning batin, Sejatine nyamut-nyamut

Wis tuwa arep apa, Muhung mahasing ngasepi

Supayantuk parimamaning Hyang Suksma

Artinya:

Demikianlah perumpaannya, Padahal mereka menginginkan

Bukankah demikian paman Doplang, Benar juga yang menyangkanya

Namun didalam batin, Sesungguhnya hal itu masih jauh

Sudah tua mau apa lagi, Sebaiknya menjauhkan diri dari keramaian duniawi

Supaya mendapatkan anugerah kasih Tuhan Yang Maha Esa

Bait 9

Beda lan kang wus santosa, Kinarilan ing Hyang Widhi

Satiba malanganeya, Tan susah ngupaya kasil

Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung

Marga samaning titah, Rupa sabarang pikolih

Parandene masih taberi ikhtiyar

Artinya:

Berbeda bagi mereka yang telah teguh sentosa

Jiwanya dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa

Betapapun tingkah laku perbuatannya

Tidak susah untuk mendapatkan penghasilan

Oleh karena dari datangnya pertolongan Tuhan

Tuhan senantiasa memberikan petunjuk pertolongan

Berupa segala sesuatu yang bermanfaat

Meskipun demikian dia masih tetap tekun rajin berusaha

Bait 10

Sakadare linakonan, Mung tumindak mara ati

Angger tan dadi prakara, Karana wirayat muni

Ikhtiyar iku yekti, Pamilihe reh rahayu

Sinambi budi daya, Kanthi awas lawan eling

Kang kaesthi antuka parmaning Suksma

Artinya :

Sekedar menjalani hidup, Hanya semata bertindak mengenakkan hati

Asalkan tidak menjadi suatu masalah, Dengan memperhatikan petuah orang tua

Bahwa ikhtiar itu sesungguhnya, Memilih jalan agar selamat

Sambil terus berusaha, Disertai dengan awas dan sadar

Yang bertujuan agar mendapatkan kasih anugerah Tuhan

Bait 11

Ya Allah Ya Rasulullah, Kang sipat murah lan asih

Mugi-mugi aparinga, Pitulung ingkang martani

Ing alam awal akhir, Dumunung ing gesang ulun

Mangkya sampun awredha, Ing wekasan kadi pundi

Mila mugi wontena pitulung Tuwan

Artinya:

Ya Allah Ya Rasulullah yang pemurah dan pengasih, Semoga berkenan melimpahkan

Pertolongan yang menyelamatkan, Di dunia hingga di akhirat

Tempat hidup hamba, Padahal sekarang hamba sudah tua

Pada akhirnya nanti bagaimana terserah, Maka semoga ada pertolongan Tuhan

Bait 12

Sageda sabar santosa, Mati sajroning ngaurip kalis

Ing reh huru-hara, Murka angkara sumingkir

Tarlen meleng melatsih, Sanityaseng tyas mamatuh

Badharing sapudhendha, Antuk wajar sawatawis

Borong angga suwarga mesi martaya

Artinya:

Semoga dapat sabar sentosa, Laksana mati di dalam hidup

Terbebas dari segala kerusuhan, Angkara murka tamak loba menyingkir semua

Tiada lain karena berkonsentrasi demi memohon kasih Tuhan

Senantiasa melatih hatinya patuh, Agar dapat mengurungkan kutukan

Sehingga mendapat sinar terang  sekedarnya

Berserah diri agar dapat masuk surga yang berisi Keabadian

Demikianlah isi dari 12 bait Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggo Warsito. Serat ini sangat populer khususnya pada generasi tua Jawa dimana serat ini masih sering didendangkan dalam bentuk macopatan.

Sumber: -https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ranggawarsita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here